RSS

Mengenai SUKOI JATUH

13 Mei

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait musibah jatuhnya pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia di sekitar lereng Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/5/2012) sore.

Pada pembicaraan yang berlangsung Kamis (10/5/2012) pukul 22.30 WIB, Presiden Putin menyampaikan dua permintaan kepada Presiden Yudhoyono. “Pertama, Presiden Putin meminta kerja sama dengan Indonesia untuk proses identifikasi forensik terhadap korban musibah tersebut, di mana Rusia juga memiliki ahli-ahli di bidang tersebut,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah kepada para wartawan, Kamis tengah malam.

Presiden Putin juga menawarkan kerja sama untuk mengirimkan pakar yang akan mengidentifikasi reruntuhan pesawat berpenumpang 47 orang tersebut.

Menurut Faiza, Presiden Yudhoyono telah menyetujui dua permintaan tersebut. Bahkan, Kepala Negara telah menghubungi instansi-instansi terkait di Indonesia untuk segera merealisasikan kerja sama tersebut. Kedua kedutaan besar, baik RI maupun Rusia, juga akan dihubungi untuk menindaklanjuti hal tersebut.

“Presiden Yudhoyono meminta agar hal tersebut diinformasikan kepada pihak keluarga korban sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah,” kata Faiza.

Pada kesempatan tersebut, kedua kepala negara juga saling menyampaikan dukacita yang mendalam atas musibah ini. Dari 47 penumpang, delapan di antaranya adalah warga Rusia. Sebelumnya, Presiden Yudhoyono telah menginstruksikan agar musibah jatuhnya pesawat dengan nomor penerbangan RA 36801 itu diinvestigasi secara saksama.

Secara terpisah, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menyatakan telah membentuk sebuah komisi untuk menyelidiki penyebab musibah tersebut. Komisi ini dipimpin oleh Menteri Industri dan Perdagangan Rusia Yury Slyusar dan beranggotakan para pejabat dari Kementerian Luar Negeri dan United Aircraft Corporation.

SSJ100 adalah pesawat penumpang pertama buatan Rusia sejak Uni Soviet runtuh awal 1990-an. Pesawat ini dilengkapi dengan teknologi canggih fly-by-wire dan dikembangkan bersama dengan beberapa perusahaan dirgantara dari negara barat, seperti Boeing dari Amerika Serikat, Alenia dari Italia, dan Snecma dari Perancis.

Rusia berharap SSJ100 akan membangkitkan lagi industri manufaktur pesawat sipil Rusia. Olga Kayukova, juru bicara United Aircraft Corporation selaku perusahaan induk Sukhoi, mengatakan, pihaknya berencana memproduksi hingga 1.000 unit pesawat SSJ100, yang sebagian besar akan dipasarkan ke luar negeri. Di Indonesia, Sukhoi berharap bisa menjual 42 unit pesawat.

Sukhoi dan Tekad Kebangkitan Rusia
| Laksono Hari W | Jumat, 11 Mei 2012 | 06:18 WIB
AFP/NATALIA KOLESNIKOVA Sebuah pesawat Sukhoi Superjet 100 tampil dalam pameran dirgantara MAKS 2009 di Zhukovsky, 19 Agustus 2009. Pesawat serupa diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu (9/5/2012) sore dan jatuh di sekitar Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, beberapa menit setelah lepas landas.
1
Membangun industri dirgantara sama sekali bukan perkara mudah, bahkan bagi negara yang pernah memiliki basis industri pesawat udara yang sangat besar seperti Rusia. Kiprah legendaris pesawat-pesawat tempur buatan Rusia terbukti tidak menjamin negara itu akan sukses saat membuat dan memasarkan pesawat penumpang komersial.

Itulah yang terjadi di Rusia pada era 1990-an. Di tengah keruntuhan infrastruktur industri dirgantara di Rusia setelah pembubaran Uni Soviet, beberapa pemain utama industri tersebut berusaha bertahan.

Pabrikan-pabrikan pesawat Rusia, seperti Tupolev dan Ilyushin, mencoba mengembangkan pesawat baru yang mengadaptasi berbagai desain dan teknologi Barat. Pesawat Tupolev Tu-204, misalnya, dirancang untuk menandingi Boeing 757. Adapun Ilyushin Il-96 berambisi menjadi pesaing Boeing 777 dan Airbus 330.

Namun, pesawat-pesawat itu tidak pernah laku di luar para pelanggan tradisional Rusia sejak era Uni Soviet, seperti Kuba, Korea Utara, Iran, dan beberapa negara Afrika. Menurut artikel Andrew E Kramer di The New York Times, hanya sekitar selusin Il-96 yang terjual, salah satunya menjadi pesawat kepresidenan Fidel Castro dari Kuba.

Produsen pesawat di Rusia akhirnya mengakui bahwa terlalu berat bersaing dengan Airbus dan Boeing. Namun, Rusia tak mau menyerah begitu saja. Para pelaku industri memutuskan banting setir, mengincar pasar dengan pesaing lebih kecil, seperti Bombardier dari Kanada dan Embraer dari Brasil. Mereka juga membuat kerja sama produksi dengan perusahaan-perusahaan Barat untuk mengisi celah ketinggalan teknologi dan membantu menembus pasar global.

Di sinilah Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) lahir. Diproduksi oleh pabrikan Sukhoi, yang terkenal sebagai pembuat jet tempur legendaris, SSJ100 diharapkan akan menjadi awal kebangkitan industri dirgantara Rusia. Dengan kapasitas 75-95 tempat duduk dan jarak jelajah 3.000-4.500 kilometer, pesawat ini berada di kelas yang sama dengan Embraer E-170 dan Bombardier CRJ-700.

Sukhoi pun menggandeng beberapa perusahaan dirgantara Barat, seperti Alenia Aeronautica dari Italia, Thales dan Snecma dari Perancis, dan Liebherr dari Swiss untuk mengembangkan pesawat penumpang yang lebih cocok dengan ”selera” Barat. Boeing dari Amerika Serikat pun digandeng sebagai konsultan.

Dengan sistem kontrol elektronik fly-by-wire dan mesin turbofan baru, Kramer mencatat, SSJ100 sudah tak terasa seperti pesawat-pesawat penumpang era Uni Soviet. SSJ100 pun menawarkan kelebihan dengan memasang harga lebih rendah daripada pesaingnya, yakni sekitar 31,7-35 juta dollar AS per unit.

Namun, dengan segala kelebihan itu, SSJ100 tak serta-merta laku keras. Berbagai masalah teknis muncul, mulai dari rusaknya detektor, kebocoran pemasok udara kabin, hingga masalah roda pendarat.

Citra pesawat buatan Rusia yang sering jatuh beberapa tahun belakangan ini juga menjadi kendala pemasaran SSJ100. Itu sebabnya, Sukhoi berusaha semaksimal mungkin mempromosikan pesawat itu ke negara-negara calon pembeli potensial. Dalam rangka tur promosi itulah, SSJ100 mampir di Indonesia pekan ini. (AFP/BBC/DHF)

Evakuasi Korban Sukhoi
Mereka Mendaki dengan Dagu Hampir Menyentuh Tanah

dari Tagana Kabupaten Bogor, menceritakan betapa beratnya medan pencarian korban dan pesawat Sukhoi Superjet 100, Jumat (11/5/2012) pagi tadi.

Tim evakuasi yang menuju lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, harus menghadapi medan yang sangat berat. Posisi tebing yang terjal membuat mereka harus mendaki dengan dagu hampir menyentuh tanah.

“Sejak awal kondisi jalan sudah menanjak. Sekitar 45 menit perjalanan, sudah sangat terjal dan tidak ada jalan yang rata. Selepas itu mendaki sudah dengan posisi dagu hampir mengenai tanah,” tutur Itong, dari Tagana Kabupaten Bogor, Jumat (11/5/2012) pagi.

Itong dan sejumlah anggota tim yang kehabisan logistik sempat bertahan di ketinggian 1.800 meter dari permukaan laut, belum sempat mencapai titik lokasi 2.089 meter dari permukaan laut.

Sebanyak 52 anggota tim lainnya yang didominasi personel Satuan Pelopor Brimob Mabes Polri dan beberapa wartawan melanjutkan perjalanan. “Kami turun pukul 06.00 pagi tadi. Kondisi yang memberatkan selain terjal juga jarak pandang pendek. Jalan licin dan harus babat alas untuk mencarikan rute yang tidak terlalu terjal,” kata Itong.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2012 in BERITA

 

Tag: , , ,

One response to “Mengenai SUKOI JATUH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: